Open Your Mind!!
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. AR RUUM:21)

Dibuka PPDB Jalur Inden SDI Luqman Al-Hakim T.A 2021/2022

Ayah Bunda menjadi lebih tenang karena sekarang SDI Luqman Al-Hakim sudah membuka pendaftaran Siswa Inden. Pendaftaran Siswa Inden menjadikan Ayah Bunda mendapat harga yang jauh lebih murah untuk pendidikan sang buah hati. 


1. Apa arti pendaftaran jalur inden?
InsyaaAllah pendaftaran peserta didik baru tahun ajaran 2021/2022 sudah bisa dimulai dari sekarang. Disebutnya pendaftaran inden atau daftar diawal sebelum pendaftaran reguler dibuka. Pendaftaran inden Ayah Bunda akan mendapatakan potongan uang gedung 50%, jauh lebih murah dibandingkan daftar jalur reguler nanti.

2. Apa keuntungan daftar jalur inden?

  • Ayah Bunda menjadi tenang karena BIAYAnya jauh lebih murah dibanding daftar reguler nanti.
  • Aya ibu akan merasa menyekolahkan sang buah hati lebih ringan karena bisa membayar dengan jangka waktu lebih luang. 
  • Ayah Bunda mendapat harga lama dan bukan harga baru yang pastinya lebih besar, itung-itung bisa penghematan uang. Uang bisa dipake keperluan yang lainnya. 
  • Ayah Bunda sudah termasuk menjadi pihak yang berperan dalam pembangunan SDI Luqman Al-Hakim yang secara otomatis sudah ambil bagian dalam membangun sekolah penghafal al-Qur'an. Semoga menjadi amal jariyah. aamiin...
  • Kita menjadi aman sudah mendaftarkan anak-anak menjadi siswa indent karena kita tidak tahu apakah nanti kita dalam keadaan lapang atau sempit. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha supaya kedepan menjadi lebih baik dan terus lebih baik lagi. Aamiin. 

3. Program Unggulan:

  • Tahfizul Qur’an ( Lulus min hafal 3 Juz ) 
  • Pembiasaan Shalat Berjama’ah 
  • Pembiasaan Adab-adab (Pembentukan karekter sejak dini) 
  • Pembejalaran Al-Qur’an dengan Metode Al Hidayah 
  • Kepanduan/Pramuka 
  • Manasik Haji 
  • Ekstrakurikuler (Taekwondo, Renang, Badminton, Futsal, Panahan & Dokter Cilik)

4. Program Khusus:

  • Program Asrama (Khusus kelas atas)
  • Kelas Tahfidz (Lulus Minimal Hafal 6 Juz)
  • Ektrakurikuler Pilihan

5. Fasilitas:

  • Masjid
  • Ruang Kelas yang luas (8 x 8)
  • Ruang Kelas ber AC
  • Ruang Perputakaan
  • Halaman Bermain
  • Lapangan Olahraga
  • Kantin Sehat

Biaya Pendidikan Gratis/Beasiswa bagi Yatim, Dhuafa' dan Mu'allaf 6. Waktu Pendaftaran Inden Tanggal 1 sd 30 September 2020 7. Informasi Pendaftaran:

  • Telp. 0561 8188411 
  • WA : 0815 2845 9020

Merindukan Generasi Emas Pembela Umat

 

Saat ini cara pandang kekebasan berperilaku menjadi kiblat bagi para generasi muda. Dengan dalih kebebasan maka mereka  menjadi tak terkontrol dengan apa yang mereka perbuat. Kebebasan ini pun akhirnya menyeret mereka pada kubangan kebebasan ini sejatinya lahir dari ideologi yang seolah menjauhkan agama dari kehidupan. Artinya ketika dalam beraktivitas sehari-hari tidak ada aturan agama yang melarang, bebas-bebas saja. Arus ide kebebasan juga membuat anak muda menjadi berpikir pragmatis. Keinginan tenar secara instan, banyak uang, bergelimang kemewahan dan lain-lain membuat mereka menempuh jalan pintas, membuat hal kontroversial untuk menarik subscriber. Belum lagi keberadaan influencer panutan yang telah sukses menunjukkan hasil dengan memamerkan kehidupan mewah mereka.

Generasi muda adalah tonggak sebuah peradaban. Di tangannya arah sebuah bangsa akan ditentukan. Kehadiran generasi emas  yang banyak didominasi oleh generasi muda itu telah banyak dicontohkan di masa keemasan Isam. Misalnya Mu’adz bin Amr bin Jamuh pada usia 13 tahun dan Mu’awwidz bin ‘Afra pada usia 14 tahun, berhasil membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin pada Perang Badar.

Zaid bin Tsabit, pada usia 13 tahun, dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penterjemah Rasulullah ﷺ, hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi (pembukuan) Al Qur’an.

Zubair bin Awwam, di usia 15 tahun, pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasulullah sebagai hawarinya (pengikut setia). Al-Arqam bin Abil Arqam, pada usia 16 tahun, menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasulullah ﷺ selama 13 tahun berturut-turut.

Sa’d bin Abi Waqqash, pada usia 17 tahun, pertama kali melontarkan anak panah di jalan Allah dan termasuk dari enam orang ahlus syuro (orang-orang yang dipercaya untuk diajak bermusyawarah). Muhammad Al-Fatih, di usia 22 tahun, menaklukkan Konstantinopel, ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa, dan masih banyak lagi.

Dari sini begitu terlihat jurang perbedaannya dengan generasi hari ini. Generasi emas yang ada di masa lalu begitu memiliki cita-cita yang tinggi dan mulia. Cita-cita yang berangkat dari kecintaan mereka terhadap Rabb  dan Rasul Nya dan keinginan mereka memberikan yang terbaik untuk umat. Cita-cita yang lahir dari keimanan kokoh yang begitu kuat mengakar di dada. Tidak ada dalam kamus mereka ingin kaya, tenar, dan lain-lain. Karena cita-cita yang sifatnya duniawi itu adalah tujuan yang rendah. Kalaupun mereka mendapatkan kebaikan di dunia, itu bukanlah menjadi tujuan utamanya.

Bukan tidak mungkin generasi emas itu hadir kembali. Bagaimana pun anak –anak muda muslim adalah cikal bakal dari kelahiran generasi emas. Lihatlah bagaimana keberanian anak-anak Muslim di Palestina yang berdiri kokoh, menantang musuh Allah meski nyawa tiap hari melayang. Mereka tetap menghafal Qur’an yang tiap hari, jumlahnya terus bertambah, dan anak-anak muda yang semangat mengkaji Islamnya juga semakin tinggi.

Sebagaimana emas yang sesungguhnya, ia perlu ditempa dengan proses yang  panjang, dicuci, dilebur, dan dimurnikan agar kemilaunya nampak.  Artinya generasi emas sesungguhnya tidak bisa lahir sendiri. Mereka harus dilahirkan dari rahim sebuah sistem yang akan memberikan mereka suasana yang mendukung untuk melejitkan semua potensi yang mereka miliki ke arah yang mulia.

Seperti layaknyaa sistem, dia lahir dari pemimpin, komunitas/lingkungan, orangtua dan keluarga serta sahabat-sahabat yang memang mendukungnya menjadi ‘emas’.  Semua punya peran dan terlibat penuh.

Pemuda generasi emas yang mencintai Islam, ia lahir dari atas sampai bawah nya, mencintai Al-Quran. Yang pola pikir dan pola sikapnya berangkat dari Qur’an dan Sunnah. Merekalah yang akan mengangkat kewibawaan kaum Muslim di mata dunia, menjadi pemimpin dunia yang disegani yang akan menyatukan seluruh wilayah Islam. Kehadiran mereka membuat Allah menjadi ridho untuk menurunkan berkahnya ke langit dan bumi.*

Penulis adalah guru Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Kranggan

 

 

Anak Adalah ‘Perawi yang Dhabit’

Orang tua harus menjadi sumber matan atau isi kebaikan bagi anak. Perkataan, perbuatan, dan diamnya orang tua akan menjadi isi bagi anak (baik pikiran dan perilakunya). Bahkan perkataan sekecil apapun

 

Hidayatullah.com | ANAK adalah buah hati (tsamaratul qalb). Anak shaleh adalah penyejuk mata (qurratu a’yun) bagi orang tua. Berbagai upaya dilakukan agar anak menjadi anak shaleh. Tarbiyah dilakukan baik di rumah dan di sekolah.

Anak kecil masih bersih dan fitrah, sehingga kalau meninggal dalam usia belia mereka dijamin masuk Surga. Segala perbuatan, perkataan dan diamnya adalah meriwayatkan. Maka, orang tua bisa melakukan verifikasi terhadap semua perkataan dan tingkah laku anak.

Sebagaimana anak-anak di zaman Nabi. Para Sahabat yang berinteraksi dengan Nabi sejak kecil banyak yang mejadi perawi (orang yang meriwayatkan/menyampaikan hadits Nabi) terbanyak. Pertama, Abdullah bin Umar lahir tahun kedua kenabian meriwayatkan 2.630 hadits.

Kedua, Anas bin Malik membantu Nabi di umur 10 tahun meriwayatkan 2.286 hadits. Ketiga, Ummul Mukminin Aisyah lahir tahun keempat kenabian. Berkumpul dengan Nabi di usia 9 tahun. Meriwayatkan 2.210 hadits.

Keempat, Ibnu Abbas lahir tahun ketiga sebelum hijriah. Meriwayatkan 1.660 hadits. Kelima, Jabir bin Abdillah lahir tahun 16 sebelum hijriah. Meriwayatkan 1.540 hadits.

Orang-orang terdekat adalah orang yang paling banyak mempengaruhi anak. Mulai lingkungan keluarga, ayah-bunda, kakek-nenek, lingkungan sekolah dan tetangga di rumah. Merekalah sumber informasi ilmu anak.

Benarlah sabda Rasulullah ﷺ:

  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ثُمَّ يَقُولُ { فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ }

Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nashrani, ataupun Majusi -sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat? ‘ kemudian beliau membaca firman Allah yang berbunyi: ‘…tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah.’ (QS: Ar Ruum (30): 30). (HR. Bukhari)

Hadits ini mudah dipahami. Karena memang anak lebih banyak waktu dengan orang tua dibandingkan dengan di sekolah, lingkungan bermain, sepanjang malam mereka bersama orang tua. Pada hadits di atas, bukan hanya aktifitas keseharian, perkataan dan perbuatan, bahkan agama sekalipun orang tua mampu mengubah dan menggantinya.

Anak melakukan aktifitas yang kompleks di rumah. Mereka melakukan aktivitas penuh pengulangan, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Hal ini dilakukan hari demi hari. Bulan demi bulan hingga berganti tahun.
Bersama orang tua mereka anak melakukan aktifitas ruh, fisik, keterampilan, bahkan ibadah seperti shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh. Jarak jeda hanya di antara sebelum dan sesudah shalat. Anak-anak bisa mempraktikkan majelis ilmu, adab, tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an, latihan sedekah, doa-doa harian, dan seterusnya. Karena itulah, semua aktifitas akan terekam kuat oleh anak (dhabit, red). Benarlah sebuah ungkapan:

ما للاباء للابناء
Apa yang dipunyai ayah akan diwarisi anak.

‘Riwayat Guru’
Di samping orang tua, anak juga meriwayatkan apa yang dilihat dan ditemui dari guru. Betapa banyak ahli hadits meriwayatkan dari gurunya.

Tak sedikit anak-anak kita meniru bahkan lebih tunduk pada gurunya. Betapa banyak para ulama dalam biografi-biografinya juga terpengaruh oleh gurunya bahkan meneruskan bidang keilmuan gurunya.

Di dalam Kitab Ta’lim, Sultan Iskandar Dzulqarnain pernah ditanya, mengapa engkau lebih menghormati guru dibandingkan ayahmu?

لان ابى انزلنى من السماء الى الارض واستاذى يرفعنى من الارض الى السماء

Karena sesungguhnya ayahku adalah orang yang menurunkanku dari langit ke bumi, sedangkan guruku mengangkatku dari bumi ke langit.

Guru adalah sebaik-baik ayah bahkan guru adalah ayah dari sisi agama (abuddin) dan ayah dari sisi ruh (aburruh). Bagaimana jika sekolah tidak peduli pada agama dan ruh anak?

Setelah guru dan orang tua, lingkungan bermain anak juga mejadi sumber informasi bagi anak. Anak akan banyak meriwayatkan dari majelis-majelis ini. Rasulullah memperingatkan serius bahwa teman sampai mampu mempengaruhi agama, dalam sabdanya:
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Orang tua harus melakukan pengecekan atau verifikasi. Sudahkah anak banyak meriwayatkan dari orang tua?
Dari mana anak dapat kata-kata kotor? Hal yang berkaitan dengan iman, adab, dan syariat dasar. Huruf hijaiyah, doa-doa harian bacaan shalat, rukun iman yang enam, adab keseharian seharusnya meriwayatkan dari orang tua meskipun nantinya akan disempurnakan oleh para guru.

Kenapa demikian? Karena waktu lebih banyak dengan orang tua apalagi di masa pandemi saat ini.

Akhirnya, orang tua harus senantiasa perhatian terhadap perkembangan anak. Segala aktifitas perbuatan dan perkataan anak bisa dirunut dari mana riwayatnya.

Orang tua harus menjadi sumber matan atau isi kebaikan bagi anak. Perkataan, perbuatan, dan diamnya orang tua akan menjadi isi bagi anak (baik pikiran dan perilakunya). Bahkan perkataan sekecil apapun seperti, assalamualaikum, Allahu rabbi, jazakallah, terima kasih, minta maaf, dan minta tolong, semua itu anak dapatkan dari meriwayatkan. Dari siapa? Semua itu berasal dari, ayah bunda, guru, dan lingkungan.*/ Herman Anas, alumnus Ponpes Annuqayah

 

Keberkahan dalam Menjalin Silaturahim



"Indahnya cinta dan silahturahmi"

Seusai Sholat Shubuh aku dikejutkan oleh Bunda 
“Ari, Nenek kamu masuk Rumah Sakit. Bunda harus datang melihatnya“ 
Kulihat wajah bunda nampak sedih. 

Tentu aku harus mendampingi bunda, karena tempat tinggal nenek tidak di Jakarta tapi Sumatera. 

Sementara aku hampir tidak mungkin meninggalkan kesibukanku di Jakata, Apalagi mitra bisnisku dari luar negeri sedang ada di Jakarta untuk menjajaki kerjasama pembelian produksi pabrikku. 

kulihat Bunda sedang sibuk mengemas pakaiannya di kamar.

“Bunda, apa enggak bisa berangkatnya lusa aja” 
kataku dengan lembut.

“Bunda enggak mau ganggu kamu, bunda bisa pergi sendiri kok, antar saja Bunda ke Bandara ya."
kata bunda sambil memasukan pakaiannya kedalam koper.

“Baru minggu lalu bunda ke Dokter dan sekarang masih harus istirahat.“ 
Kataku dengan tetap lembut sambil memegang tas kopernya untuk mencoba menahannya pergi. 
“Lusa aja ya, aku temanin.“

Training Metode Al Qosimi (cepat dan kuat menghafal Al-Qur'an)

 


“Sebaik-sebaik orang diantara kalian adalah mereka yang mempelajari Al qur’an dan mengajarkannya.”(HR. Bukhori)
Hadits itulah yang menjadi motivasi setiap muslim untuk berlomba-lomba menjadi yang hamba terbaik-Nya, melalui Al qur’an. Menghafalkan ayat-ayat Al-qur’an bukan lagi hal asing dewasa ini bahkan ini adalah sebuah keharusan bagi setiap muslim.
Cita-cita ingin hafal Al qur’an menjadi dambaan setiap muslim, alangkah bahagianya jika seseorang dapat meraih cita-citanya tersebut. Setiap muslim punya peluang yang sama untuk bisa hafal Al qur’an. Namun, tidak sedikit yang terkendala dengan metode yang digunakan untuk menghafal Al Qur’an. Dikutip dari buku yang berjudul ANDA PASTI BISA HAFAL AL-QUR’AN Metode Al-Qosimi karya Abu Hurri Al-Qosimi Al-Hafizh.

Sehubungan akan pentingnya mempelajari Al-Qur'an, maka Yayasan Hidayatullah Kota Pontianak akan mengadakan Training Metode Al-Qosimi pada hari Sabru, 15 Agustus 2015 yang bertempat di Aula Asrama Haji, Jl. Sutoyo Kota Pontianak. Dengan harapan peserta dapat memahami metode yang tepat dan kuat dalam menghafal Al-Qur'an dan bisa mengamalkan (menhajarkan) di masyarakat luas.
informasi lebih lanjut, silahkan download brosur di bawah ini. terima kasih...

Haid Wanita Hamil

Pada umumnya, seorang wanita jika dalam keadaan hamil akan berhenti haid (menstruasi). Kata Imam Ahmad, rahimahullah, "Kaum wanita dapat mengetahui adanya kehamilan dengan berhentinya haid".

Apabila wanita hamil mengeluarkan darah sesaat sebelum kelahiran (dua atau tiga hari) dengan disertai rasa sakit, maka darah tersebut adalah darah nifas. Tetapi jika terjadi jauh hari sebelum kelahiran atau mendekati kelahiran tanpa disertai rasa sakit, maka darah itu bukan barah nifas. Jika bukan, apakah itu termasuk darah haid yang berlaku pula baginya hukum-hukum haid atau disebut darah kotor yang hukumnya tidak seperti hukum-hukum haid ? Ada perbedaan pendapat di antara para ulama dalam masalah ini.

Dan pendapat yang benar, bahwa darah tadi adalah darah haid apabila terjadi pada wanita menurut kebiasaan waktu haidnya. Sebab, pada prinsipnya, darah yang terjadi pada wanita adalah darah haid selama tidak ada sebab yang menolaknya sebagai darah haid. Dan tidak ada keterangan dalam Al-Qur'an maupun Sunnah yang menolak kemungkinan terjadinya haid pada wanita hamil.

Inilah madzhab Imam Malik dan Asy-Syafi'i, juga menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Disebutkan dalam kitab Al-Ikhtiyarat (hal.30) :"Dan dinyatakan oleh Al-Baihaqi menurut salah satu riwayat sebagai pendapat dari Imam Ahmad, bahkan dinyatakan bahwa Imam Ahmad telah kembali kepada pendapat ini".

Dengan demikian, berlakulah pada haid wanita hamil apa yang juga berlaku pada haid wanita tidak hamil, kecuali dalam dua masalah :
1. Talak.
Diharamkan mentalak wanita tidak hamil dalam keadaan haid, tetapi tidak diharamkan terhadap wanita hamil. Sebab, talak dalam keadaan haid terhadap wanita tidak hamil menyalahi firman Allah Ta'ala.

"Artinya : ....Apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) ...." [Ath-Thalaaq : 1].

Adapun mentalak wanita hamil dalam keadaan haid tidak menyalahi firman Allah. Sebab, siapa yang mentalak wanita hamil berarti ia mentalaknya pada saat dapat menghadapi masa iddahnya, baik dalam keadaan haid ataupun suci, karena masa iddahnya dengan masa kehamilan. Untuk itu, tidak diharamkan mentalak wanita hamil sekalipun setelah melakukan jima' (senggama), dan berbeda hukumnya dengan wanita tidak hamil.
2. Iddah.
Bagi wanita hamil iddahnya berakhir dengan melahirkan, meski pernah haid ketika hamil ataupun tidak. Berdasarkan firman Allah Ta'ala.

"Artinya : Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya" [Ath-Thalaaq : 4]


[Disalin dari buku Risalah Fid Dimaa' Ath-Thabii'iyah Lin Nisaa' . Penulis Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-'Utsaimin, edisi Indonesia Darah Kebiasaan Wanita. Penerjemah. Muhammad Yusuf Harun, MA, Terbitan. Darul Haq Jakarta]

BERDIRI UNTUK MENYAMBUT YANG DATANG

Oleh :
Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Ketika seseorang masuk, sementara kami sedang duduk di suatu majlis, para hadirin berdiri untuknya, tapi saya tidak ikut berdiri. Haruskah saya ikut berdiri, dan apakah orang-orang itu berdosa ?

Jawaban
Bukan suatu keharusan berdiri untuk orang yang datang, hanya saja ini merupakan kesempurnaan etika, yaitu berdiri untuk menjabatnya (menyalaminya) dan menuntunnya, lebih-lebih bila dilakukan oleh tuan rumah dan orang-orang tertentu. Yang demikian itu termasuk kesempurnaan etika. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri untuk menyambut Fathimah, Fathimah pun demikian untuk menyambut kedatangan beliau [1]. Para sahabat Radhiyallahu ‘anhum juga berdiri untuk menyambut Sa’ad bin Mu’adz atas perintah beliau, yaitu ketika Sa’ad tiba untuk menjadi pemimpin Bani Quraizah.

Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu ‘anhu juga berdiri dan beranjak dari hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘anhu datang setelah Allah menerima taubatnya, hal itu dilakukan Thalhah untuk menyalaminya dan mengucapkan selamat kepadanya, kemudian duduk kembali [3]. (Peristiwa ini disaksikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak mengingkarinya). Hal ini termasuk kesempurnaan etika. Permasalahannya cukup fleksible.

Download Proposal Pembangunan SDIT

Assalamu'alaikum...
semoga segala aktifitas kita diberi kelancaran.. amin...
sobat-sobat sekalian mungkin ada diantara kita yang ingin membangun gedung sekolah dasar Islam terpadu dan kesulitan dalam membuat proposal pembangunan gedung. so di sini saya akan berbagi file tentang proposal tersebut. silahkan sobat klik link di bawah ini. file dalam bentuk rar

Download Proposal Pembangunan Gedung SDIT